Lompat ke konten utama
Kesehatan

Retinoblastoma: Kanker Mata pada Balita yang Perlu Deteksi Dini

Retinoblastoma adalah kanker mata yang sering menyerang anak di bawah usia 3 tahun, dengan deteksi dini menjadi kunci kesembuhan.

Redaksi Lintasnesia3 menit baca
Retinoblastoma: Kanker Mata pada Balita yang Perlu Deteksi Dini
Retinoblastoma: Kanker Mata pada Balita yang Perlu Deteksi Dini

Retinoblastoma adalah kanker mata yang berasal dari retina, bagian belakang mata yang berfungsi menangkap cahaya. Penyakit ini paling sering ditemukan pada bayi dan anak di bawah usia 3 tahun, jarang terdiagnosis pada anak usia di atas 5 tahun. Deteksi dini retinoblastoma sangat penting karena semakin cepat ditemukan, semakin besar peluang anak untuk bertahan hidup dan mempertahankan penglihatannya.

Menurut laporan AyoSehat Kemenkes, retinoblastoma dapat terjadi pada salah satu mata (unilateral) atau kedua mata (bilateral). Penyakit ini berkaitan dengan perubahan (mutasi) pada gen RB1. Ada dua jenis retinoblastoma, yaitu yang herediter (diturunkan) dan yang non-herediter (tidak diturunkan). Retinoblastoma non-herediter tidak diturunkan dari orang tua, melainkan terjadi karena mutasi gen RB1 secara acak setelah anak lahir, dan biasanya hanya menyerang satu mata. Sementara itu, retinoblastoma herediter terjadi jika salah satu orang tua memiliki riwayat retinoblastoma atau membawa gen RB1 yang bermutasi, sering menyerang kedua mata, dan muncul sejak usia sangat muda.

Gejala retinoblastoma berbeda-beda tergantung pada stadium penyakitnya. Tanda paling sering adalah leukokoria atau "mata kucing", yaitu pupil memantulkan cahaya putih, abu-abu, perak, atau kuning jika terkena cahaya, bukan merah seperti normalnya. Gejala lain termasuk strabismus (mata juling), kesulitan dalam mengikuti gerakan objek, mata terasa nyeri, proptosis bulbi (mata menonjol keluar), mata kemerahan/bengkak tanpa penyebab yang jelas, dan penurunan penglihatan yang sering tidak disadari.

Untuk diagnosis, dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan. Diagnosis pasti biasanya ditegakkan melalui pemeriksaan histopatologi, yaitu analisis jaringan bola mata yang telah diangkat (enukleasi). Biopsi tidak dianjurkan pada kasus ini karena bisa menyebabkan penyebaran sel kanker. Pemeriksaan penunjang meliputi USG mata untuk melihat adanya massa/tumor, serta CT scan dan MRI untuk membantu melihat penyebaran tumor ke bagian lain.

Struktur Mata dan Perkembangan Kanker

Retina adalah lapisan di bagian belakang mata yang terdiri dari sel-sel fotoreseptif yang menangkap cahaya dan mengubahnya menjadi sinyal neural yang dikirim ke otak melalui saraf optik. Pada retinoblastoma, sel-sel di retina mengalami mutasi genetik yang menyebabkan pertumbuhan tidak terkendali. Gen RB1 yang bermutasi ini biasanya berperan sebagai penghambat tumor, dan ketika tidak berfungsi dengan baik, sel-sel retina dapat membelah secara tidak terkontrol.

Retinoblastoma termasuk jenis tumor padat yang banyak ditemukan pada bayi dan balita. Di Indonesia, retinoblastoma menjadi salah satu kanker paling umum pada anak usia di bawah 5 tahun, dengan insidensi sekitar 1 dari 15.000-20.000 kelahiran hidup. Meskipun merupakan kanker yang ganas, angka kesembuhannya relatif tinggi jika ditangani dengan tepat dan dini, mencapai 90-95% di negara-negara maju, namun masih lebih rendah di negara berkembang seperti Indonesia.

Perkembangan pengobatan retinoblastoma telah mengalami kemajuan pesat. Selain metode tradisional seperti kemoterapi, radioterapi, dan pengangkatan mata, saat ini tersedia terapi yang lebih presisi seperti fotokoagulasi, krioterapi, dan terapi intravitreal. Beberapa negara juga mulai menerapkan terapi genetika untuk mengatasi mutasi gen RB1 secara langsung, meskipun ini masih dalam tahap penelitian.

Dampak dan Pencegahan bagi Anak Indonesia

Bagi anak dan keluarga di Indonesia, retinoblastoma memberikan dampak psikologis dan sosial yang signifikan. Selain beban medis, anak dengan retinoblastoma sering mengalami stigma sosial, terutama jika memerlukan pengangkatan mata dan penggunaan mata palsu. Dukungan psikososial menjadi bagian penting dalam perawatan, termasuk bimbingan untuk keluarga dalam menghadapi perubahan penampilan dan tantangan sosial yang mungkin dihadapi anak.

Pemeriksaan mata rutin pada bayi menjadi sangat penting untuk deteksi dini retinoblastoma. Anak-anak dengan riwayat keluarga retinoblastoma sebaiknya diperiksa matanya secara rutin sejak lahir, dengan pemeriksaan mata pertama disarankan dilakukan dalam 1 bulan setelah lahir. Untuk semua bayi, tes "Lihat Merah" (red reflex test) dapat dilakukan di Puskesmas menggunakan lampu senter atau oftalmoskop untuk mendeteksi leukokoria secara dini.

Di Indonesia, akses pengobatan retinoblastoma masih menghadapi tantangan, terutama di daerah terpencil. Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah mengupayakan peningkatan akses diagnosis dan pengobatan melalui program penemuan dini kanker pada anak. Orang tua perlu waspada terhadap gejala seperti leukokoria atau mata kucing, dan segera membawa anak ke dokter mata jika menemukan tanda-tanda tersebut. Deteksi dini terbukti dapat menurunkan angka kematian akibat retinoblastoma, terutama di negara-negara berkembang seperti Indonesia.

Tag:deteksi dinikanker matakesehatan anakleukokoriaretinoblastoma

Berita Terkait